Hey (2)

Hey,

Hal yang paling berat dari sebuah perpisahan, bukan tentang melepaskanmu.

Tapi melihatmu bukan dengan diriku.

Sedangkan kamu adalah ayah dari anakku.

Bukankah sebaiknya memang harus ada sebutan mantan ayah jika memang kehendakmu menjadikanku sebagai mantan istri.

Ini tentang moral.

Dari awal aku sudah memandang segala hal dari mata seorang anak perempuan.

Yang berkehendak melihat ayah ibunya penuh cinta.

Dan tidak menyakiti hatinya dengan kenyataan bahwa orang tuanya tidak lagi bersama dan tidak lagi saling mencintai.

Cukuplah tiada lagi namamu dalam hidup dan dalam akte kelahirannya.

Biarlah dia hidup sebagai seorang anak yang di didik langsung oleh alam dan tangan-tangan Tuhan.

Menjadi kuat.

Menjadi bijaksana.

Menjadi tegas.

Dan peka dengan perasaan kasih manusia.

Tanpa ada kamu setetes keringatpun.

Bukan, ini bukan tentang egoku.

Tapi tentang ego pecundangmu yang memilih mundur daripada membangun, meski jumlah biaya yang harus kamu bayar: sama besarnya.

Atau tentang dukun yang bertindak.

Mungkin kau lupa hukum segala hukum di dunia: apa yang kamu tanam, itu kelak yang akan kamu tuai.

Selamat tinggal, pecundang.

Terimakasih telah mengubah segalanya yang ada di hidupku.

Terimakasih telah membuat aku berkorban lebih banyak dari segala hubungan sebelumnya.

Terimakasih sudah membuang waktu dan kesempatanku.

Semoga kamu bahagia dengan keputusanmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s