Refleksi (1)

Halo selamat malam pembaca!

Saya ini kondisi sudah selesai me-ninabobok-an anak, jadi saya sudah bisa leluasa berpikir dan memang sudah terbiasa beraktifitas pada malam hari.

Tapi kesulitan umumnya adalah kenangan akan selalu muncul pada dua kondisi: hujan dan malam. Sehingga tak jarang sedikit membuat saya kebawa perasaan gitu hahaha.

Dan kenangan yang muncul kali ini saya rasa cukup berharga sehingga saya memutuskan untuk menuliskannya di blog.

Saya teringat pada 2017 lalu ketika saya melaksanakan proyek volunteering di Vietnam. Saya dan tim berlima mewakili Indonesia.

Dua diantara mereka menjadi sahabat hati saya sampai sekarang, sebut saja namanya Mas Pri dan Mbak Nur, meskipun kami seumuran tapi kami saling menghormati satu sama lain.

Faktor usia yang seumuran membuat kami sama-sama mengalami ujian hidup “quarter life crisis” pada saat itu. Berasa satu rasa satu karsa, tak jarang pada malam hari ketika teman-teman sudah terlelap, kita bertiga masih kumpul, curhat dari hati ke hati, nangis bareng, diskusi bareng. Saya menemukan keluarga dalam hati mereka.

Malah Mas Pri pernah curhat padaku ketika kami duduk bersebelahan di bis malam sepanjang perjalanan Thai Nguyen – Hanoi PP. Dia bercerita tentang namanya yang unik, kenapa dia bisa dinamakan namanya itu. Tentang perjuangan ibunya yang membesarkan ketiga anaknya seorang diri, kakak perempuannya memiliki gangguan emosi, dan ketika ibunya hamil Mas Pri inilah saat-saat susah terburuk dalam sejarah hidup ibunya, yang tidak bisa saya ceritakan disini. Mas Pri bercerita, pelan, sambil menangis.

Saya paham sekali Mas Pri ini sosok yang ceria, exciting, ga pernah sedih, dan ga pernah marah. Di kampusnya dia ini mahasiswa berprestasi. Tapi di balik itu semua, ternyata ada perjuangan yang sangat pahit, yang saya sendiri pun ga bisa membayangkan bagaimana bila saya ada di posisi dia dan air mata yang mungkin sudah berapa liter yang tumpah. Dan ternyata saya menjadi salah satu saksinya waktu itu.

Dan Mbak Nur, wanita yang sangat keibuan, kind-hearted, polos dan lucu. Dengan hati terbuka bercerita tentang keresahannya atas tuntutan orang tua, antara S2 dulu atau menikah dulu. Sebab dulu ternyata ada pengalaman yang tidak mengenakan tentang hubungan, jadi dia ada rasa trauma.

Lalu saya berpesan, dengarlah hati nurani sendiri, sebab yang paling tau tentang mau jadi apa diri ini ya kita sendiri yang tau. Dan jangan pernah melabeli diri sendiri hanya karena kita punya masalalu percintaan yang kurang baik. Sebab semua individu berhak untuk dihargai dan dihormati sebagai manusia beserta segala perjuangannya, berhak memiliki masa depan yang lebih baik dan bahagia, karena masa depan itu suci.

Lagi-lagi, orang yang kukenal sangat exciting, ceria dan terbuka. Didepanku, mereka membuka hati, menitipkan perasaannya dan menitikkan air mata…..

Dan kembali saya merefleksikan pengalaman saya kala itu dengan apa yang saya hadapi di masa sekarang.

Saya belajar, kedua sahabat saya ini berasal dari keluarga yang kurang mampu, mereka punya kisah hidup yang lebih menyayat hati. Namun kenapa mereka masih bisa tertawa bahagia, bisa berprestasi dan memberi impact luar biasa, menyebarkan energi positif yang sangat kuat, menjadi relawan dengan tulus?

Mengapa mereka tidak mengambil jalur bisnis dan cara-cara licik lain saja untuk membuat kehidupan mereka menjadi kaya?

SEBAB KEBAHAGIAAN TIDAK BISA DIUKUR DENGAN HARTA 🙂

Kekayaan bagi mereka adalah merasakan pengalaman kemanusiaan dan tentu saja narimo ing pandum, atau ikhlas dengan segala pemberian dari Allah SWT selama itu halal dan berkah. Sebab bagi mereka, keberkahan adalah kunci hidup dengan bahagia.

Refleksi lagi… refleksi lagi…

Sudahkah saya mencarikan rejeki yang berkah bagi anak saya?

Apakah dari proses saya menjemput rejeki pernah menipu? Pernah menyakiti hati orang? Atau berbuat curang? Apakah sudah dengan cara halal? Dan hal lain yang bisa mengurangi keberkahan saya dalam menjalani hidup?

Definisi berkah bagi saya adalah hidup ayem, tentram dan tercipta banyak tawa setiap saat tanpa merasa terbebani.

Sebab saya percaya, sesuatu yang tumbuh dari bibit yang halal, maka akan tumbuh menjadi jiwa dan raga yang waras dan baik.

🙂

Dan kini, kedua sahabat saya ini makin melesat menuju angkasa hahaha. Mas Pri makin sering keliling dunia melaksanakan proyek kemanusiaan dan mengisi seminar di kampus-kampus. Dan Mbak Nur sudah lulus S2 lalu setelah itu menikah. Syukurlah alhamdulillah…

Saya? Saya sudah bahagia dong sama anak saya yang bulan ini ulang tahun yang pertama hihi 😀

Saya rindu pada mereka, semoga suatu hari nanti kita bisa bertemu lagi 😊

Terimakasih sudah membaca!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s