Hujan Bulan November

Akhirnya Semarang pun turun hujan, setelah sebulan lebih merasakan matahari tepat diatas kepala.

Halaman belakang rumahku selalu menyajikan pemandangan yang sangat indah, langit yang luas dan angin yang semilir. Sebab rumahku berdiri diatas dataran tinggi sehingga bisa memandang jauh dari atas sini.

Dan perlahan langit mencurahkan berkahnya sore ini…

Perlahan..

Teratur..

Tenang..

Dingin..

Dan ya, hujan selalu membangkitkan kenangan.

Kala itu, November 2018.

Seorang perempuan yang sedang mengandung anak pertama, duduk dibalik jendela kamarnya dilantai dua. Memandang langit yang sedang mengamuk.

“Sayang, disana hujan?”

“Iya dek, disini hujan, petirnya nyeremin”

“Iya Yang, disini juga.. kamu hati-hati ya..”

Begitu tertulis chat antara dia dan suaminya. Kemudian dia menerima kiriman video cctv kantor dari suaminya.

“Petirnya dilapangan udah kayak gini, khawatir ada mesin yg kesamber”

“Ya allah.. serem banget, moga ga ada apa-apa ya yang..”

Setelah itu lama tak ada balasan.

1 menit..

5 menit..

10 menit..

30 menit..

1 jam..

Ya Allah. Gelisah sekali rasanya.. apa yang terjadi disana? Apakah dia baik-baik saja? Dengan kondisi petir seperti itu? Memang tidak mudah bekerja di kawasan penyimpanan gas PLTG yang rawan bahaya. Perut yang sedang hamil 8 bulan itupun mulai merasa tak nyaman karena rasa gelisah dan takut yang menggigit, bagaimana kalo terjadi bencana? Bagaimana kalo suamiku kenapa-napa? Bagaimana nasibku? Bayiku? Impian kita? Semuanya? Ya Allah… suamiku.. semoga kau baik-baik saja.. aku sayang kamu.. aku masih ingin menikmati hari tua bersamamu.. sedangkan untuk menelpon pun ia tak berani, saking takutnya, entahlah, hanya menunggu kabar darinya saja.

Setelah sekian waktu menunggu tiba-tiba…

“ADEEKKK!”

Sebuah chat masuk yang secepat kilat dia balas.

“Sayang kamu kemana aja? Kamu gapapa? Ada apa kenapa lama ga ada kabar di cuaca kayak gini?”

“Maaf dek, tadi dilapangan ada mesin yang kesamber petir trus kebakar, jadi aku langsung terjun kelapangan buat madamin…”

DEG!! Kaki ini terasa lemas..

“Trus kamu gimanaaa??”

“Aku gapapa sayang, alhamdulillah udah bisa dipadamin bareng sama temen-temen tadi..”

Syukurlah.. kamu masih bersamaku, sayang.

_______________________________________

Kini, November 2019.

Laki-laki baik yang kutangisi dan kudoakan setiap hari saat dia melangkahkan kaki ke tempat kerja itu..

Iya dia tetap laki-laki yang baik..

Dia adalah cinta terakhirku dan cinta pertama putriku..

Tapi sayang, ternyata dia lahir dari rahim iblis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s