Kaya Hati Meski Tak Kaya Harta

Di siang yang panas dan terik ini, ada seorang anak perempuan sedang membantu ibunya berjualan es kelapa muda di sebuah warung di pinggir jalan.

Ia nampak masih menggunakan rok seragam sekolah dasar dan kaos kasual. Aku hampir sering mampir kesana, apalagi saat cuaca sangat terik seperti ini.

Aku menghampirinya, “halo dik, sudah pulang sekolah ya?”

“Sudah kak,” jawabnya sambil senyum manis dan ramah, “kakak juga baru pulang kuliah?”

“Iya nih dik,”

“Es degan satu yah, ga pakai gula”

“Siap kak!”

“Oiya ayahnya adik kemana ya? Kok ga pernah kelihatan?”

Dia berhenti sebentar, “Hmm.. kata Ibu, Ayahku sudah meninggalkan kita sejak aku umur 4 bulan”

“Eh.. maksudnya ayahnya adik ini.. meninggal?”

“Enggak kak, Ayahku memilih kehidupannya sendiri, soalnya katanya aku sama ibu itu ganggu kehidupan sama ibadahnya”

“Ehh???”

Aku tertegun sebentar,
“Adik sering kangen ayah?”

“Pasti dong kak, hehe, tapi ya gimana lagi, kata ibu kalo kita sayang sama orang, kita ikhlaskan aja apapun keputusan hidupnya, setiap orang yang kita miliki kan punyanya Allah bukan punya kita hehehe”

Hatiku ambyar seambyar ambyarnya.

“Kalau seandainya waktu bisa diputar lagi, dan saat itu adik udah bisa bicara, apakah adik akan tetap menahan ayah buat pergi?”

“Dalam hati pasti lah kak, tapi sekarang aku ga akan memaksa ayah buat tetap tinggal kok…”
“Kenapa?”
“Kasihan ibu,”

Aku terdiam, enggan melanjutkan pertanyaanku, sepertinya memang ada hal berat yang mereka hadapi dulu sekali sehingga bertanya lebih lanjut mungkin akan membuka luka lamanya.

“Aku begini juga udah bersyukur kok kak dan ga pernah merasa kekurangan kasih sayang dan ga berharap waktu berputar kembali untuk memilih dari ayah siapa aku dilahirkan. Karena waktu itu masih ada ibu, uti dan akung yang selalu sayang sama aku, meskipun sekarang hanya tinggal aku sama ibu, tapi kita teman hidup yang saling membahagiakan. Hehehe… dan aku yakin ayah juga disana bahagia sama kehidupannya sendiri” katanya, lagi-lagi diiringi senyuman tulus itu.

Aku tersenyum haru, hampir saja air mataku menetes, “hahaha… adik ini.. terimakasih ya buat pelajaran hidupnya, kalo butuh bantuan kakak siap bantu kapan aja deh hehehe”

Semoga kelak masa depanmu menjadi orang yang mulia dan berguna bagi nusa bangsa ya dik, doaku dalam hati.

Banyak orang menderita kehidupannya karena tidak mampu menikmati apa yang telah diperolehnya. Tetapi selalu mencari dan menginginkan sesuatu di luar jangkauannya, merasa sukses itu ada di sana, bukan berada di sini. Maka berbahagialah orang yang mampu menerima keadaan hari ini apa adanya, tanpa menggerutu, mengeluh, dan tanpa kasihan pada diri sendiri.

Mampu menerima keadaan yang tidak bisa diubah dengan ikhlas dan rasa syukur. Itulah jiwa besar yang harus kita kembangkan di dalam mengarungi kehidupan ini agar kita tetap mantap dan tegar dalam menatap hari depan.

Kita tersenyum saat kita maju dan sukses itu adalah hal biasa. Namun bisa tetap tersenyum di saat kita dirundung ketidakberuntungan, itu barulah luar biasa! Itulah kekayaan hidup. Itulah pemenang sejati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s