Ragam dan Makna Motif Batik Solo dan Yogyakarta – 1

Beberapa bulan yang lalu aku mbolang ke Pekalongan jalan kaki, dari stasiun ke museum batik siiih… Yakali gempor banget kalo dari Semarang demi video ini. Sebenarnya aku dapet banyak banget cerita soal batik nusantara tapi baru sempet nulis sekarang, terutama batik yang paling banyak itu dari Jawa, karena kata guide-nya, motif dari Solo dan Yogyakarta ini memang ada pakem-pakem tertentu. Dan yes aku jadi merinding kagum begitu dijelasin semua tentang maknanya, filosofinya, semangatnya. Karena batik-batik ini melambangkan filosofi proses kehidupan manusia, dari lahir-anak2-remaja-menstruasi-dewasa-pernikahan-resepsi-punya anak-sakit-dan mati. Nah disini aku pengen ga cuma aku aja nih yang ngerasain betapa dalam sekali makna dan harapan yang ditorehkan dari setiap motif batik yang ada. Aku harap para pembaca juga bisa ngerasain maknanya.

Dan karena motifnya ini buanyaak banget, aku akan angkat 16 motif aja yang aku ketahui dari batik yang dipajang di Museum Batik Pekalongan yang aku bagi menjadi 2 part artikel. Nanti kalo ada koreksi, kritik atau saran sampaikan aja ya di kolom komentar atau langsung ke aku yaa. Monggoo…

1. Motif Kawung
Asal : Yogyakarta
Kegunaan : Melahirkan

batik-motif-kawung-semarPola Kawung merupakan susunan dari 4 bentuk bulat atau elips. Kawung melambangkan ajaran  “sangkan paraning dumadi” yaitu ajaran tentang proses terjadinya manusia yang sering disebut “keblat papat lima pancer”. Pancer atau pusat atau wudel disini adalah pusat manusia. Kawung juga di identikan sebagai biji buah aren atau lebih dikenal dengan kolang-kaling. Pohon buah aren merupakan tanaman serbaguna, dimana semua bagiannya sangat berguna untuk kehidupan manusia. Ini mengandung harapan agar sang bayi akan berguna bagi sesama manusia dan lingkungannya.

2. Motif Parangkusuma
Asal : Surakarta

motif-batik-parang-kusumo
Motif ini berasal dari dua suku kata yakni Parang yang berarti lereng, dan kusumo yang berarti bunga atau kembang. Pada jaman dulu motif batik Parang Kusumo hanya boleh dikenakan oleh kalangan keturunan Raja bila berada didalam kraton. Pada era sekarang kain batik motif parang kusumo digunakan pada saat tukar cincin.
Makna yang terkandung dalam motif ini adalah bahwasanya hidup harus dilandasi oleh perjuangan untuk mencari keharuman lahir dan batin sebagaimana wangi harumnya bunga. Bagi orang Jawa keharuman yang dimaksud adalah keharuman batin dan perilaku, keharuman pribadi, taat pada norma-norma yang berlaku dan bisa membawa diri agar dapat terhindar dari berbagai bencana.

3. Motif Parang Rusak
Asal : Yogyakarta
Kegunaan : Menggendong Bayi

motif-batik-parang-rusak
Parang rusak merupakan pola dasar dari parang, dahulu hanya digunakan oleh raja dan keluarganya. Tetapi saat ini motif ini dapat digunakan oleh siapa saja. Motif ini memiliki komposisi kemiringan 45 derajat yang melambangkan kekuatan gerak cepat. Parang rusak mempunyai makna perang melawan perilaku yang tidak baik atau rusak.

4. Motif Sida Asih
Asal : Surakarta
Kegunaan : Menggendong Bayi

batik_sido_luhur
Motif-motif berawalan sida (dibaca sido) merupakan golongan motif yang banyak dibuat para pembatik. Kata “sida” sendiri berarti jadi/menjadi/terlaksana. Dengan demikian, motif-motif berawalan “sida” mengandung harapan agar apa yang diinginkan bias tercapai. Makna dari motif Sida Asih (dibaca Sido Asih) adalah harapan agar manusia mengembangkan rasa saling menyayangi dan mengasihi antar sesama.

5. Motif Parang Klithik

motif-batik-parang-klitik
Motif batik Parang Klitik  merupakan pola parang yang memiliki bentuk stilasi yang lebih halus dari parang rusak, bentuk lebih sederhana dan mempunyai ukuran yang lebih kecil. Motif parang klitik ini menggambarkan citra feminim, lembut, menggambarkan perilaku halus dan bijaksana. Motif parang klitik ini pada jaman dulu banyak dikenakan oleh para puteri raja.

6. Motif Udan Liris
Asal : Surakarta
Kegunaan : Khitan

img_6664
Udan Liris atau Daniris. Pola ini menampilkan 7 motif batik disusun dalam bentuk lereng . Ketujuh motif tersebut diantaranya; motif api, melambangkan kesaktian atau ambisi, setengah kawung menggambarkan sesuatu yang berguna, banji sawah melambangkan kebahagiaan dan kesuburan. Kain batik Daniris ini digunakan pada ritual khitanan sebagai lambang harapan bisa selamat, subur dan sejahtera.

7. Motif Wahyu Tumurun
Asal : Surakarta
Kegunaan : Akad Nikah

wahyu-tumurun-cantel
Wahyu Tumurun yang artinya wahyu atau anugerah yang turun. Motif ini bermakna harapan atau permohonan turunnya anugerah dan petunjuk dari Tuhan Yang Maha Esa.Digunakan oleh kedua pengantin dengan harapan akan selalu mendapat anugerah untuk menjalankan hidup sehingga jauh dari gangguan dan malapetaka.

Bersambung — ke part 2

Advertisements

5 thoughts on “Ragam dan Makna Motif Batik Solo dan Yogyakarta – 1

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: